Mega proyek berkonsep Two Countries Twin Parks (TCTP) ini tidak hanya dituntut matang secara bisnis, tetapi juga wajib mengantongi restu sosiokultural dari para ulama sepuh Madura jika ingin melenggang mulus di lapangan.
Secara formal-regulasi, persetujuan tokoh agama memang tidak tertulis dalam lembaran izin investasi negara, namun, dalam realitas geopolitik Madura, kepatuhan masyarakat terhadap dawuh (titah) kiai menempatkan figur ulama sebagai pemegang kunci stabilitas keamanan dan sosial yang sesungguhnya.
Upaya konfirmasi kepada Bupati Bangkalan serta perwakilan investor asal China terkait progres perizinan sosiokultural hingga kini belum membuahkan hasil.
Menanggapi kekosongan respon formal tersebut, Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik Madura, Agus Sugito, mendesak pemerintah daerah dan konsorsium investor untuk tidak meremehkan jalur diplomasi pesantren.
“Diamnya pihak birokrasi dan investor saat ini justru menimbulkan tanda tanya di tingkat akar rumput, di Madura, Anda tidak bisa membangun pagar pabrik terlebih dahulu baru kemudian mengetuk pintu pesantren, urutannya harus dibalik,” ujar Agus Sugito dalam analisisnya di Bangkalan, Senin (10/08)
Proyek strategis yang bersiap menyerap kelompok pabrik raksasa asal China di sektor tekstil, pengolahan pangan, hingga manufaktur ini diproyeksikan mampu menyerap puluhan ribu tenaga kerja lokal, potensi ini digadang-gadang menjadi solusi konkret guna memutus rantai urbanisasi dan tradisi merantau pemuda Madura ke luar negeri sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Namun, Agus Sugito mengingatkan bahwa aspek pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengabaikan identitas religius lokal, investor diwajibkan berkomitmen menjaga nilai kearifan lokal, mulai dari penyediaan fasilitas ibadah yang representatif di area pabrik, penghormatan waktu sakral ibadah, hingga standarisasi norma kesopanan pekerja.
“Investasi dari China ini bernilai triliunan rupiah dan berpotensi menyerap puluhan ribu tenaga kerja lokal, itu fakta ekonomi yang bagus, namun, jika regulasi industri dipaksakan berjalan tanpa menyelaraskan sistem syariat dan kearifan lokal yang dijaga para ulama, proyek ini hanya akan menjadi menara gading yang memicu resistensi sosial yang sangat mahal harganya,” tegas Agus.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa para kiai dan ulama Madura pada dasarnya tidak anti terhadap kemajuan ekonomi, mereka hanya ingin memastikan bahwa industrialisasi tidak membawa ekses negatif seperti degradasi moral atau pengabaian hak beribadah pekerja, komitmen jaminan moral ini yang harusnya segera dipaparkan secara transparan oleh investor kepada para ulama, bukan malah menutup diri.
Pemerintah daerah sendiri kini dikabarkan mulai gencar melakukan safari silaturahmi politik (sowan) ke sejumlah pondok pesantren besar di Madura, pendekatan humanis ini dilakukan guna memaparkan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) sekaligus menyerap aspirasi para kiai, guna memastikan gerak roda industri global dapat berjalan selaras dengan napas pesantren, Madura kini berada di persimpangan jalan sejarah, membuktikan diri mampu menjadi magnet investasi dunia tanpa harus kehilangan jati diri spiritualnya.
-KORTAS NEWS-




